30 Juni 2017

erend

Moto Rapi (Radio Antar Penduduk Indonesia)

Moto Rapi (Radio Antar Penduduk Indonesia) - Gudangnya Moto (Moto dalam bahasa Inggris Motto) tentulah paman kita si botak...., Mariyo Tangguh. Tapi tidak cuma paman kita yang punya Moto, organisasi radio kita-pun punya Moto. Moto Rapi adalah Rukun diudara Akrab didarat Iman dihati.

Moto Rapi adalah semboyan atau sebuah prinsip Rapi, dimana semboyan ini bisa kita aplikasikan dalam tatanan hidup sehari-hari. Seorang Rapi harus punya kehidupan yang rukun baik itu di darat, di air apalagi di udara, karena di udara tidak ada lahan parkir. Tentunya bila capek gontok-gontokan tidak ada tempat untuk rehat :P

Moto Rapi

Okeh masalah gontok-gontokan di udara kita cukupkan sekian dolo karena admin mau mencari sesuap nasi guna melangsungkan hidup :P Lebih detilnya Insya Alloh akan kita bahas dalam artikel selanjutnya mengenai Tata Cara Berkomunikasi

Moto Admin Blog Naon Wae Lah ....yakin saja bahwa Man Jadda Wajada, siapa bersungguh-sungguh pastilah menuai hasil..... #peun !
erend

Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP)

Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) - Tempo dulu jaman Fir’aun masih telanjang dan generasi admin juga pada saat itu adalah ketika beringus tidak dibuang tapi dijilat, satu-satunya stasiun KRAP di Kawali hanya punyanya mamang saya, almarhum Aneng Ramlan. Beliaulah yang pertama mengenalkan Radio CB di kota Kawali. Beliau juga salah seorang atlet Penerjun Payung atau Terbang Layang Jawa Barat. Tapi bukan masa Fir’aun telanjang juga admin nontot leho intinya, karena kita akan membahas Sejarah Singkat Perkembangan KRAP dan Organisasi RAPI.

Komunikasi Radio Antar Penduduk

KRAP singkatan dari Komunikasi Radio Antar Penduduk adalah komunikasi radio yang pada awalnya menggunakan band frekuensi HF (11 meter band), di negara asalnya, yaitu Amerika terkenal dengan nama CB (Citizen Band), yang dilegalisir sejak tahun 1958 dibawah pengawasan Federal Communication Commission (FCC).

Keberadaan CB diperlukan masyarakat Amerika sebagai sarana komunikasi antar penduduk untuk saling memberikan informasi bila mendapat kesulitan, mohon bantuan/pertolongan dengan segera atau kepentingan gawat darurat. Sehingga instansi-instansi resmipun seperti : Kepolisian, SAR, Rumah Sakit, Pemadam Kebakaran, dan lembaga sosial kemasyarakatan lainnya, ikut secara aktif memonitor pada frekuensi tertentu yang disebut “Jalur Gawat Darurat”. Apabila terdengar berita yang sifatnya meminta bantuan, maka instansi yang bersangkutan siap membantunya.

Disamping itu alat komunikasi ini juga banyak digunakan untuk membantu komunikasi pada penyelenggaraan acara-acara penting lainya.

Radio CB memasuki Indonesia pada dekade 70-an yang terus berkembang dan penggunaanya masih bersifat liar. Melihat kenyataan ini, Pemerintah menyadari kalau tetap dibiarkan akan mengakibatkan dampak negatif, karena alat komunikasi radio ini apabila oleh pemilik yang tidak bertanggungjawab dan liar dapat digunakan untuk tindakan yang bersifat kriminal, subversif, atau yang lain.  Untuk itu Pemerintah mengambil tindakan penertiban dan kebijaksanaan melegalisir penggunaan radio CB melalui Menteri Perhubungan yang menetapkan SK MENHUB RI Nomor : S1.11/HK 501/Phb-80 tertanggal 6 Oktober 1980, tentang Perijinan Penyelenggaraan Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP).

Untuk melaksanakan pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggara/ pengguna KRAP, maka Dirjen Postel dengan suratnya bernomor: 6356/OT.002/Dirfrek/80, tanggal 31 Oktober 1980 menunjuk Tim Formatur untuk membentuk organisasi yang mengadakan pembinaan, pengelolaan, dan pengendalian KRAP. Hasil musyawarah Tim Formatur melalui SK Dirjen Postel nomor :125/Dirjen/1980, tanggal 10 November 1980 ditetapkan KEPUTUSAN TENTANG PENDIRIAN DAN PENGANGKATAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI RADIO ANTAR PENDUDUK. Selanjutnya organisasi tersebut dinamakan RADIO ANTAR PENDUDUK INDONESIA disingkat RAPI.

Sumber : Buku Panduan RAPI JZ13LLD

29 Juni 2017

erend

Ten Code (Kode Sepuluh) Radio Antar Penduduk Indonesia

Ten Code (Kode Sepuluh) Radio Antar Penduduk Indonesia - Pernah dengar toh Papih Doel JZ27XD bilang bahwa bapak Anu bicaranya RAPI sekali ? Ya, bukan saja satu keharusan atau menjadi standar baku bagi seorang anggota RAPI tapi memang betul-betul harus tahu dan dipahami diluar kepala karena Ten Code adalah "identitas seorang RAPI".

Ten Code atau Kode Sepuluh adalah kode yang digunakan oleh para pelaku komunikasi radio Indonesia yang bernaung dibawah Organisasi RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Kode Sepuluh berguna untuk meyingkat pembicaraan/pesan yang hendak disampaikan kepada lawan bicara, tujuannya agar pembicaraan kita dapat dimengerti dengan tepat dan efisien. Ten Code atau Kode Sepuluh ini diadopsi dari Official Ten-Code List yang dikeluarkan oleh Association of Public Communications Officers (APCO) dengan sedikit modifikasi.

Ten Code

Coba amati gambar pengantar artikel ini. Ada Code Ten yang menempel di dinding belakang meja saya. Saya ketik ulang di blog Naon Wae Lah dengan maksud membantu anggota baru ataupun calon anggota RAPI Serui yang perlu guna untuk dihapal....yang kurang lebih isi gambar tersebut seperti dibawah ini :

Kode Komunikasi Sepuluh atau Ten Code, kode yang dipergunakan RAPI pada pita frekuensi HF (11 M) Frek. 26,960 – 27,410 MHz; VHF (2 M) Frek. 142.000 – 143.600 MHz

10-1      Diterima tidak sempurna (Receiving Poorly)
10-2      Diterima sempurna (Receiving Well)
10-3      Berhenti mengudara (Stop Transmiting)
10-4      Berita Diterima, OK (OK Message)
10-5      Berita ditujukan ke …. (Relay to Message)
10-6      Ada Kesibukan, Monitor (Bussy, Standby)
10-7      Perangkat Rusak // Tidak dapat mengudara
10-8      Sedang diperbaiki, jika baik kembali mengudara
10-9      Berita Diulang (Repeat Message)
10-10    Berita selesai disampaikan, Monitor
10-11    Berbicara terlalu cepat (Talking to fast)
10-12    Mengundurkan diri / Ada Tamu
10-13    Laporan keadaan cuaca / jalanan
10-14    Berita / Informasi (Message / Information)
10-15    Berita tidak benar (Uncorrect Message)
10-16    Mohon dijemput / diambil di ….
10-17    Ada urusan penting (Urgent Bussines)
10-18    Ada sesuatu untuk kami ? (Anything for us ?)
10-19    Bukan untuk Anda, harap dikembalikan
10-20    Lokasi (Location)
10-21    Hubungan melalui telepon (Call by Telephone)
10-22    Laporkan sendiri ke…. (Report in person to ….)
10-23    Menunggu // Standby
10-24    Selesai melaksanakan tugas
10-25    Dapatkah anda menghubungi …. (Can you contact ….)
10-26    Info terakhir tidak serius, bercanda
10-27    Pindah frekuensi (I’m moving to channel / freq)
10-28    Nama panggilan (Call sign)
10-29    Waktu komunikasi cukup
10-30    Tidak menaati peraturan
10-31    Antena yang digunakan
10-32    Laporan sinyal dan modulasi
10-33    Keadaan DARURAT (EMERGENCY)
10-34    Butuh bantuan, ada kesulitan di stasiun ini
10-35    Informasi Rahasia (Confidental Information
10-36    Pukul berapa ? (Correct Time)
10-37    Perlu mobil derek di ….
10-38    Perlu AMBULANCE di ….
10-39    Berita telah sampai (Message Delivered)
10-40    Perlu DOKTER di …. (Doctor neede at ….)
10-41    Mohon pindah frekuensi ke ….
10-42    Kecelakaan Lalu Lintas di …. (Traffic Accident at)
10-43    Kemacetan Lalu Lintas di …. (Traffic Tie Up at)
10-44    Saya ada pesan untuk anda
10-45    Unit dalam jangkauan mohon melapor
10-46    Sopir cadangan (Assist Motorist / Need Assist)
10-47    Waktu berangkat jam …. ((Departure Time)
10-48    Waktu tiba jam (Arrived Time)
10-49    Titik pertemuan di …. (to meet at / pick up at)
10-50    Mohon kosongkan kanal (Break)
10-51    BBM habis / penuh (Stop for Gas / Full)
10-52    Butuh ban (Rubber Need)
10-53    Mobil pengantar / pengawal
10-54    Frekuensi koordinasi (Freq, Allocation)
10-55    Pengendara yang melanggar peraturan
10-56    Laporan perkembangan (Progress Report)
10-57    Butuh alat penerangan (Lighting Needed)
10-58    Mobil mogok (to strike car)
10-59    Membutuhkan montir
10-60    Perintah selanjutnya …. ?
10-61    Jalan tidak bisa dilewati
10-62    Tidak tersdengar, melalui telephon saja
10-63    Bankom dilaporkan oleh ….
10-64    Frekuensi ini bersih
10-65    Menunggu berita selanjutnya
10-66    Berita ditunda / Batal (Cancel Message)
10-67    Semua siap bertugas (All unit Comply)
10-68    Ada acara pertemuan (Have a meeting at)
10-69    Urusan pribadi (Private Business)
10-70    Ada KEBAKARAN di ….
10-71    Radio yang digunakan ….
10-72    Pengarahan dari ….
10-73    Kurangi kecepatan di ….
10-74    Tidak (Negative)
10-75    Gangguan radio (Causing Interverence)
10-76    Tujuan perjalanan ke ….
10-77    Tidak berkomunikasi dengan ….
10-78    Pekerjaan / Sekolah (School / Occupation)
10-79    Membutuhkan makanan / minuman
10-80    Stasiun Pancar Ulang (Repeater Station)
10-81    Pesankan kamar di hotel ….
10-82    Pesankan tempat untuk ….
10-83    Pelengkapan caangan
10-84    Nomor telephon ….
10-85    Alamat saya / anda ….
10-86    Nomor telephon bagian informasi
10-87    Mohon dijemput di ….
10-88    Salam, Peluk dan Cium (Love and Kisses)
10-89    Butuh montir radio di ….
10-90    Gangguan terhadap Televisi (TV)
10-91    Bicara dekat microphone
10-92    Frekuensi Anda tidak tepat
10-93    Cek frekuensi perangkat saya
10-94    Berbicara panjang untuk Tuning
10-95    Mengudara dengan sinyal setiap 5 detik
10-96    Gangguan Jammer
10-97    Tes pada pemancar
10-98    Kegiatan net (Net Activity)
10-99    Tugas selesai, semua orang selamat
10-100    Ke kamar mandi
10-200    Perlu bantuan Polisi di ….
10-300    Perlu bantuan Pemadam Kebakaran di ….
10-400    Perlu bantuan Tibum di ….
10-500    Perlu bantuan Provost di ….
10-600    Perlu bantuan Militer di …
10-700    Perlu bantuan SAR di ….
10-800    Perlu bantuan PLN di ….
10-900    Perlu bantuan di ….
51             Salam Keluarga
55             Salam Sejahtera
73             Best Regard
88             Love and Kisses 

Semoga bermanfaat....Happy Blogging !

28 Juni 2017

erend

Jadwal Pertandingan Timnas U-16 di Piala AFC 2017 Thailand

Jadwal Pertandingan Timnas U-16 di Piala AFC 2017 Thailand - Setelah sukses menjuarai ajang Turnamen TIEN PHONG PLASTIC di VIETNAM, Timnas U-16 Indonesia akan bermain di Piala AFC U-15 2017 yang akan digelar di Chonburi, Thailand, 9 Juli hingga 22 Juli mendatang.

Fachri Husaini

Bagi serdadu Timnas U-16 tak ada libur panjang disaat Idul Fitri 1438 H ini. Karena Hamzah, Lestaluhu dkk harus menjalani persiapan akhir untuk menghadapi gelaran Piala AFC U-15 yang akan berlangsung di Chonburi Thailand.

Tim Pelatih yang dikepali Fakhrii Husaeni melakukan berbagai evaluasi termasuk segi tekhnis guna menjuarai Piala AFC 2017 ini. Di fase grup Tim Garuda akan bertemu Thailand, Myanmar, Laos, Singapura dan juara bertahan Australia.

Kita doakan saja agar tim kebanggan kita ini berjaya, membawa harum nama Indonesia.
Inilah Jadwal Pertandingan Timnas U-16 di Piala AFC 2017 Thailand :

Jadwal Pertandingan Timnas U-16

27 Juni 2017

erend

Naon

Naon ? Naon bae da sagala oge aya. Dari mulai kebutuhan kantor hingga dapur. Kebutuhan kantor diantaranya berwujud meja kantor, kursi kantor, meja komputer, komputer PC, laptop, Notebook, kertas hvs, printer hingga tintanya. Kebutuhan dapur meliputi sendok, cowet, kulkas, mesin cuci hingga Air Conditioner atawa AC aya.

Kasir

Naon deui ?
Radio Komunikasi atawa RAKOM dari mulai HT China, HT Japan, HT Indonesia sampai HT Malausma ada tersedia di Yapen Komputer Serui. Berbagai merk Antena Rakom, Radio RIG, Power Supply dari yang ber-ampere kecil hingga besar ada, diantaranya Sumura, RTVC, EAGLE, TIGER, hingga Maung Ompong oge aya. Anda membutuhkan yang 10A, 20A, 30A,40A sampai yang 120A ada.

Handy Talky

Power Suply

Handphone Naon nu aya ?
Begitu juga dengan Handphone dari mulai merk China, Oppo, Advan, Assus, Samsung, Sony, hingga Sungsang. Yapen Komputer Serui juga menyediakan tekhnisi HP yang profesional didatangkan langsung dari ITC Jakarta.

Handphone

Naon nu aya jang fotografer atawa penggemar photografi ?
Ulah hariwang.....semua ada koq di Toko Yapen Komputer Serui. Dari mulai kamera yang ada di PSV,HP dan Kamera Profesional atau Camera Digital.

Kamera

Kamera 2

Alat musik atau perangkat Sound System

Amplifier

Speker Aktif

Naon nu aya jang barudak ?
Kebutuhan anak-anak terutama permainannya ato kaulinanana, Toko Yapen Komputer Serui menyediakan PSV berbagai merk, PS berbagai type, Play Station 1,2,3 dan PS4. CD atau kaset PS beribu judul tersedia di toko kami.

Kaset Play Station

Naon deui ? Pokona mah sagala aya, montong tatanya bae. Datang langsung ke Toko Yapen Komputer di Jl. Kopi belakang Lembaga Serui. Kami siap menyambut anda dengan keramah-tamahan.

25 Juni 2017

erend

Putri Titipan Tuhan

Putri Titipan Tuhan -  Ku Tak Pernah Layak

Kalau kata Om Hamdan Erros di Facebook, jangan kebawa baper. Tidak sieh Om karena ini bisa dikatakan sinopsis atau apa saja yang penting bukan sinetron dewa :P
Awalnya sieh karena dengar Lagu Opick Ku Tak Pernah Layak Soundtrack (OST) Putri Titipan Tuhan SCTV terasa begitu dalam syair-syairnya hingga penasaran dengan jalan cerita di sinetronnya.

Putri Titipan Tuhan

Lalu ketika kita buka FB selalu ada pertanyaan yang itu-itu saja "Apa yang anda pikirkan sekarang ?" Saya hanya bisa menjawab dalam hati "Ingin Kehidupan Yang Sempurna".Tapi... adakah kehidupan yang sempurna ? Karena setahu saya yang sempurna hanya yang dijepit dijari saya :P

Jelas tak ada kehidupan yang sempurna karena semakin kita mencari kesempurnaan,semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya. Karena sejatinya kesempurnaan yg hakiki tdk pernah ada, yg ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan.

Kalau kita melihat sekilas pada keluarga Bunda Hapsari pada sinetron Putri Titipan Tuhan adalah keluarga sukses atas "kebahagian" dgn anak" yg cantik juga cerdas. Nadira calon dokter, Lula yang belum genap berumur 21 akan lulus dari fakultas komunikasi, Keysha masih kuliah di Semarang dan Fauzan satu-satunya anak laki-laki Bunda Hapsari yang dikenal sangat cerdas dan santun. Semuanya terlihat seperti sempurna.

Pak Salman yang bekerja sebagai PNS guru SMP dan Bunda Hapsari juga bekerja sebagai PNS Guru SD dikenal sebagai pasangan suami istri sederhana yang sukses dalam mendidik anak-anak mereka. Sekilas kita menebak kalau kelak masa depan anak-anaknya yang cantik-cantik dan cerdas-cerdas itu akan cerah.

Tapi Tuhan berkehendak lain, cobaan datang silih berganti pada Bunda Hapsari. Lula syok dan hilang akal, akibat mengalami kecelakaan lalu lintas dan menyaksikan sendiri ayahnya Pak Salman terlindas truk hingga meninggal. Efisode kemarin malam malah Keysha yang masih kuliah di Semarang hamil sebelum nikah,akibat ulah pacarnya.

Next ......dan pantau terus bila anda penasaran dengan kelanjutan kisah Putri Titipan Tuhan di TV anda. Karena saya cuma bermaksud memberi gambaran bahwa tak ada kehidupan yang semulus jalan tol Jagorawi. Selalu ada cobaan dan rintangan yang bisa kita hadapi hanya dengan kesabaran. Contoh jelas kesabaran ada pada Bunda Hapsari.

Toooh....Tuhan memberikan cobaan agar kita mampu bersabar. Marilah kita sadari bahwa apa yg kita dapatkan hari ini adalah yg terbaik dan kita harus berprasangka baik kepada Allah dan jangan pernah sedikitpun meragukan keAgungan Allah karena sesungguhnya kesadaran akan menerima segala yang terjadi dan berbuat yang terbaik saat ini akan menjadikan hidup kita semakin indah dan penuh warna.

Oh ya...yang butuh Lirik Lagu Opick  - Ku Tak Pernah Layak silahkan cermati disini :

Semisai buih di samudera
Sebanyak bintang di angkasa
Karunia yang t'lah kau beri
Untukku... di hidup
Sebening embun pagi
Setitik cahaya cinta
Yang kudamba.... menjadi
Seluruh mimpi hidupku,,,,

meski ku tak pernah layak
hadir dan campakkan cintamu
meski t'lah jauh ku berlari
mencari arti hidup ku

Meski ku tak pernah mampu
bila tak kau ijinkan aku
bersujudku dan berharap
mohon sedikit cintamu
haaaa...haaa...haaa

lebih dalam dari samudera
lebih tinggi dari khayalku
kasih sayang yang kau beri
untukku..untukku

hanyalah air mata ....yang ku punya hari ini
ku memohon ...ku meminta... kasihanilah diriku

Meski ku tak pernah layak
Hadirkan makna cintamu
Meski t'lah jauh ku berlari
Mencari arti hidupku

Meski ku tak pernah mampu
Bila tak kau ijinkan aku
Bersujudku dan berharap
Mohon setitik cintamu

Meski ku tak pernah layak
Meski t'lah jauh ku berlari
Mencari arti hidupku

Meski ku tak pernah mampu
Bersujudku dan berharap
Mohon setitik cintamu...

Ku Tak Pernah Layak ..... peun !

21 Juni 2017

erend

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H - Tak terasa tinggal beberapa hari lagi kita akan ditinggalkan bulan yang penuh berkah ini, bulan suci Ramadhan. Ada "rindu" magrib yang akan sirna karena bulan-bulan biasa rindu magrib tak akan sengotot rindu pada bulan Ramadhan :P

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Kita sudah bekerja keras untuk tidak tergolongkan pada orang-orang yang cuma menyisakan rasa lapar saja dari puasa kita. Kita sudah sekuat tenaga untuk menyempurnakan "berkah" bulan suci ini. Kita berharap bulan suci ini menjadi penyebab hijrahnya kita kearah dan prilaku yang lebih baik...Aamiin.

Kewajiban manusia pada dasarnya tak lebih dari hanya berusaha dan berikhtiar, karena urusan balasan amal adalah wewenang-NYA. Atas nama admin dari blog tak laik dibaca ini Naon Wae Lah memohon maaf bila ada tulisan saudara yang saya copas atau ada komentar saudara yang tidak saya jawab, semata karena alasan kesibukan offline saja, saya minta maaf.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Taqobbalallahu minna wa minkum. Barakallahu Fiikum !

19 Juni 2017

erend

Sunda

Sunda - Urang Sunda (Suku Sunda) adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan wilayah barat Jawa Tengah (Banyumasan). Orang Sunda tersebar diberbagai wilayah Indonesia, dengan provinsi Banten dan Jawa Barat sebagai wilayah utamanya.

Sunda

Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, riang dan bersahaja. Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani. Orang sunda juga adalah yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain.

Sunda
Berdasarkan “Sastrajenrahayuningrat” istilah “Sunda” dibentuk oleh tiga suku kata yaitu SU-NA-DA yang artinya adalah “matahari” ;
–          SU = Sejati/ Abadi
–          NA = Api
–          DA = Besar/ Gede/ Luas/ Agung
Dalam kesatuan kalimat “Sunda” mengandung arti “Sejati-Api-Besar” atau “Api Besar yang Sejati atau bisa juga berarti Api Agung yang Abadi”. Maksud dan maknanya adalah matahari atau “Sang Surya” (Panon Poe/ Mata Poe/ Sang Hyang Manon). Sedangkan kata “Sastrajenrahayuningrat” (Su-Astra-Ajian-Ra-Hayu-ning-Ratu) memiliki arti sebagai berikut;
–          Su = Sejati/ Abadi
–          Astra = Sinar/ Penerang
–          Ajian = Ajaran
–          Ra = Matahari (Sunda)
–          Hayu = Selamat/ Baik/ Indah
–          ning = dari
–          Ratu = Penguasa (Maharaja)
Dengan demikian “Sastrajenrahayuningrat” jika diartikan secara bebas adalah “Sinar Sejati Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Ratu” atau “Penerang yang Abadi Ajaran Matahari – Kebaikan dari Sang Maharaja” atau boleh jadi maksudnya ialah “Sinar Ajaran Matahari Abadi atas Kebaikan dari Sang Penguasa/ Ratu/ Maharaja Nusantara”, dst.
“Sunda” sama sekali bukan nama etnis/ ras/ suku yang tinggal di pulo Jawa bagian barat dan bukan juga nama daerah, karena sesungguhnya “Sunda” adalah nama ajaran atau agama tertua di muka Bumi, keberadaannya jauh sebelum ada jenis agama apapun yang dikenal pada saat sekarang.
Agama “Sunda” merupakan cikal-bakal ajaran tentang “cara hidup sebagai manusia beradab hingga mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi (adi-luhung). Selain itu agama Sunda juga yang mengawali lahirnya sistem pemerintahan dengan pola karatuan  (kerajaan) yang pertama di dunia, terkenal dengan konsep SITUMANG (Rasi-Ratu-Rama-Hyang) dengan perlambangan “anjing” (tanda kesetiaan).
Ajaran/ agama Sunda (Matahari) pada mulanya disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang (Sang Hyang Tamblegmeneng) putra dari Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya yang lebih dikenal sebagai Aji Tirem (Aki Tirem) atau Aji Saka Purwawisesa.
Ajaran Sunda lebih dikenal dengan sebutan Sundayana (yana = way of life, aliran, ajaran, agama) artinya adalah “ajaran Sunda atau agama Matahari” yang dianut oleh bangsa Galuh, khususnya di Jawa Barat.
Sundayana disampaikan secara turun-temurun dan menyebar ke seluruh dunia melalui para Guru Agung (Guru Besar/ Batara Guru), masyarakat Jawa-Barat lebih mengenalnya dengan sebutan Sang Guru Hyang atau “Sangkuriang” dan sebagian lagi memanggilnya dengan sebutan “Guriang” yang artinya “Guru Hyang” juga.
Landasan inti ajaran Sunda adalah “welas-asih” atau cinta-kasih, dalam bahasa Arab-nya disebut “rahman-rahim”, inti ajaran inilah yang kelak berkembang menjadi pokok ajaran seluruh agama yang ada sekarang, sebab adanya rasa welas-asih ini yang menjadikan seseorang layak disebut sebagai manusia. Artinya, dalam pandangan agama Sunda (bangsa Galuh) jika seseorang tidak memiliki rasa welas-asih maka ia tidak layak untuk disebut manusia, pun tidak layak disebut binatang, lebih tepatnya sering disebut sebagai Duruwiksa (Buta) mahluk biadab.
Agar pemahaman ke depan tidak menjadi rancu dan membingungkan dalam memahami istilah “Sinar (Astra/ Ra/ Matahari), Cahaya (Dewa) dan Terang” maka perlu dijelaskan sebagai berikut;
CAHAYA
Sundayana terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah (Kemanunggalan) yaitu;
  1. Tata-Salira/ Kemanunggalan Diri; berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu, meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada diri sendiri.
  2. Tata-Naga-Ra/ Kemanunggalan Negeri; yaitu memanunggalkan masyarakat/ bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Pembangunan negara yang mandiri, tidak menjajah dan tidak dijajah.
  3. Tata-Buana/ Kemanunggalan Bumi; ialah kebijakan universal (kesemestaan) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di Buana.
Sesuai dengan bentuk dan dasar pemikiran ajaran Matahari sebagai sumber cahaya maka tata perlambangan wilayah di sekitar Jawa-Barat banyak yang mempergunakan sebutan “Ci” yang artinya “Cahaya”, dalam bahasa India disebut sebagai deva/ dewa (cahaya) yaitu pancaran (gelombang) yang lahir dari Matahari berupa warna-warna. Terdapat lima warna cahaya utama (Pancawarna) yang menjadi landasan filosofi kehidupan bangsa Galuh penganut ajaran Sunda:
  1. Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat Hyang Iswara.
  2. Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat Hyang Brahma.
  3. Cahaya Kuning di barat disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa.
  4. Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat Hyang Wisnu.
  5. Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat Hyang Siwa.
Lima kualitas “Cahaya” tersebut sesungguhnya merupakan nilai “waktu” dalam hitungan “wuku”. Kelima wuku (wuku lima) tidak ada yang buruk dan semuanya baik, namun selama ini Sang Hyang Siwa (pelebur segala cahaya/ warna) telah disalah-artikan menjadi “dewa perusak”, padahal arti kata “pelebur” itu adalah “pemersatu” atau yang meleburkan atau memanunggalkan. Jadi, sama sekali tidak terdapat ‘dewa’ yang bersifat merusak dan menghancurkan.
Ajaran Sunda dalam silib-siloka PANAH CHAKRA
Ajaran Sunda dalam silib-siloka “Panah Chakra”
“Ajaran Sunda” di dalam cerita pewayangan dilambangkan dengan Jamparing Panah Chakra, yaitu ‘raja segala senjata’ milik Sang Hyang Wisnu yang dapat mengalahkan sifat jahat dan angkara-murka, tidak ada yang dapat lolos dari bidikan Jamparing Panah Chakra. Maksudnya adalah;
–          Jamparing = Jampe Kuring
–          Panah = Manah = Hati (Rasa Welas-Asih)
–          Chakra atau Cakra = Titik Pusaran yang bersinar/ Roda Penggerak Kehidupan (‘matahari’).
–          Secara simbolik gendewa (gondewa) merupakan bentuk bibir yang sedang tersenyum (?).
CHAKRA
 Panah Chakra di Jawa Barat biasa disebut sebagai “Jamparing Asih” maksudnya adalah “Ajian Manah nu Welas Asih” (ajian hati yang lembut penuh dengan cinta-kasih). Dengan demikian maksud utama dari Jamparing Panah Chakra atau Jamparing Asih itu ialah “ucapan yang keluar dari hati yang welas asih dapat menggerakan roda kehidupan yang bersinar”.
Keberadaan Panca Dewa kelak disilib-silokakan (diperlambangkan) ke dalam kisah “pewayangan” dengan tokoh-tokoh baru melalui kisah Ramayana (Ajaran Rama) serta kisah Mahabharata pada tahun +/-1500 SM; Yudis-ti-Ra, Bi-Ma, Ra-ju-Na, Na-ku-La, dan Sa-Dewa. Kelima cahaya itu kelak dikenal dengan sebutan “Pandawa” singkatan dari “Panca Dewa” (Lima Cahaya) yang merupakan perlambangan atas sifat-sifat kesatria negara. Istilah “wayang” itu sendiri memiliki arti “bayang-bayang”, maksudnya adalah perumpamaan dari kelima cahaya tersebut di atas.
Selama ini cerita wayang selalu dianggap ciptaan bangsa India, hal tersebut mungkin “benar” tetapi boleh jadi “salah”. Artinya kemungkinan terbesar adalah bangsa India telah berjasa melakukan pencatatan tentang kejadian besar yang pernah ada di Bumi Nusantara melalui kisah pewayangan dalam cerita epos Ramayana dan Mahabharata. Logika sederhananya adalah; India dikenal sebagai bangsa Chandra (Chandra Gupta) sedangkan Nusantara dikenal sebagai bangsa Matahari (Ra-Hyang), dalam hal ini tentu Matahari lebih unggul dan lebih utama ketimbang Bulan. India diterangi atau dipengaruhi oleh ajaran dan kebudayaan Nusantara. Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa bukti (jejak) peninggalan yang maha agung itu di Bumi Nusantara telah banyak dilupakan, diselewengkan hingga dimusnahkan oleh bangsa Indonesia sendiri sehingga pada saat ini kita sulit untuk membuktikannya melalui “kebenaran ilmiah”.
Berkaitan dengan persoalan “Pancawarna”, bagi orang-orang yang lupa kepada “jati diri” (sebagai bangsa Matahari) di masyarakat Jawa-Barat dikenal peribahasa “teu inget ka Purwa Daksina…!” artinya adalah “lupa kepada Merah-Putih” (lupa akan kebangsaan/ tidak tahu diri/ tidak ingat kepada jati diri sebagai bangsa Galuh penganut ajaran Sunda).
Banyak orang Jawa Barat mengaku dirinya sebagai orang “Sunda”, mereka mengagungkan “Sunda” sebagai genetika biologis dan budayanya yang membanggakan, bahkan secara nyata perilaku diri mereka yang lembut telah menunjukan kesundaannya (sopan-santun dan berbudhi), namun unik dan anehnya mereka ‘tidak mengakui’ bahwa itu semua adalah hasil didikan Agama Sunda yang telah mereka warisi dari para leluhurnya secara turun-temurun, seolah telah menjadi genetika religi pada diri manusia Galuh.
Masyarakat Jawa Barat tidak menyadari (tidak mengetahui) bahwa perilaku lembut penuh tata-krama sopan-santun dan berbudhi itu terjadi akibat adanya “ajaran” (agama Sunda) yang mengalir di dalam darah mereka dan bergerak tanpa disadari (refleks). Untuk mengatakan kejadian tersebut para leluhur menyebutnya sebagai;
“nyumput buni di nu caang” (tersembunyi ditempat yang terang) artinya adalah; mentalitas, pikiran, perilaku, seni, kebudayaan, filosofi dll. yang mereka lakukan sesungguhnya adalah hasil didikan agama Sunda tetapi si pelaku sendiri tidak mengetahuinya.
Inti pola dasar ajaran Sunda adalah “berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welas-asih”. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma (Tiga Kebaikan) yaitu sebagai pemandu ‘ukuran’ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma (kebaikan) :
  1. Dharma Bakti, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar “Manusia Utama”.
  2. Dharma Suci, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara, manusianya bergelar “Manusia Unggul Paripurna” (menjadi idola).
  3. Dharma Agung, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak tersentuh, segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar “Manusia Adi Luhung” (Batara Guru)
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran “Budhi-Dharma” (Buddha) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasa welas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.
Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh Mahaguru Rasi Shakyamuni – Sidharta Gautama (‘Sang Budha’), seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.
Pembentukan Tri-Dharma Sunda dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umurnya (?) yaitu :
  1. Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami “rasa” (kelembutan) di dalam segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan “ngarasa jeung rumasa” (menyadari rasa dan memahami perasaan). Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain (pihak lain), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat “welas-asih” dan manusianya kelak disebut “Dewa-Sa”.
  2. Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata (bukti) atau mempraktekan sifat rasa di dalam hidup sehari-hari (*bukan teori) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat diterima dengan senang hati (bahagia) oleh semua pihak dalam keadaan “ngaraga jeung ngawaruga” (menjelma dan menghadirkan). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini disebut “Dewa-Ta”.
  3. Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan “Jati Diri” sebagai manusia “welas-asih” yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan “memberi tanpa diberi” atau memberi tanpa menerima (tidak ada pamrih). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua pihak serta layak disebut (dijadikan) pemimpin.
Ajaran Sunda berlandas kepada sifat bijak-bajik Matahari  yang menerangi dan membagikan cahaya terhadap segala mahluk di penjuru Bumi tanpa pilih kasih dan tanpa membeda-bedakan. Matahari telah menjadi sumber utama yang mengawali kehidupan penuh suka cita, dan tanpa Matahari segalanya hanyalah kegelapan. Oleh sebab itulah para penganut ajaran Sunda berkiblat kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal) sebagai simbol ketunggalan dan kemanunggalan yang ada di langit, dan kiblat agama Sunda itu bukan diciptakan oleh manusia.
Sundayana menyebar ke seluruh dunia, terutama di wilayah Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, sedangkan di Australia tidak terlalu menampak. Oleh masyarakat Barat melalui masing-masing kecerdasan kode berbahasa mereka ajaran Matahari ini diabadikan dalam sebutan SUNDAY (hari Matahari), berasal dari kata “Sundayana”dan bangsa Indonesia lebih mengenal Sunday itu sebagai hari Minggu.
Di wilayah Amerika kebudayaan suku Indian, Maya dan Aztec pun tidak terlepas dari pemujaan kepada Matahari, demikian pula di wilayah Afrika dan Asia, singkatnya hampir seluruh bangsa di dunia mengikuti ajaran leluhur bangsa Galuh Agung (Nusantara) yang berlandaskan kepada tata-perilaku berbudhi dengan rasa “welas-asih” (cinta-kasih).
Jejak keberadaan ajaran agama Sunda yang kemudian berkembang hingga saat ini terekam dalam kebudayaan masyarakat Roma (kerajaan Romawi) yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai “Hari Matahari” (Sunday) yaitu hari pemujaan kepada Matahari (Sunda) dan kini masyarakat Indonesia lebih mengenalnya sebagai hari “Natal”.
Oleh bangsa Barat (Eropa dan Amerika) istilah Sundayana ‘dirobah’ menjadi Sunday sedangkan di Nusantara dikenal dengan sebutan “Surya” (*Bangsa Arya ?) yang berasal dari tiga suku kata yaitu Su-Ra-Yana, bangsa Nusantara memperingatinya dalam upacara “Sura” (Suro) yang intinya bertujuan untuk mengungkapkan rasa menerima-kasih serta ungkapan rasa syukur atas “kesuburan” negara yang telah memberikan kehidupan dalam segala bentuk yang menghidupkan; baik berupa makanan, udara, air, api (kehangatan), tanah, dan lain sebagainya.
Pengertian Surayana pada hakikatnya sama saja dengan Sundayana sebab mengandung maksud dan makna yang sama.
–          SU = Sejati
–          RA = Sinar/ Maha Cahaya/ Matahari
–          YANA = way of life/ ajaran/ ageman/ agama
Maka arti “Surayana” adalah sama dengan “Agama Matahari yang Sejati” dan dikemudian hari bangsa Indonesia mengenal dan mengabadikannya dengan sebutan “Sang Surya” untuk mengganti istilah “Matahari”.
Perobahan istilah SUNDA
Perobahan istilah “Sunda”
Sekilas gambaran di atas boleh jadi hanya bersifat gatuk (mencocok-cocokan), namun mustahil jika kemiripan penanda (sebutan dan objek) itu terjadi dengan sendirinya tanpa sebab, selain itu terjadi pula kemiripan pada nilai-nilai yang bersifat prinsip dan mustahil pula jika tidak ada yang memulai dan mengajarkannya. Tentu “tidak mungkin ada akibat jika tanpa sebab” (hukum aksi-reaksi), dalam pepatah leluhur bangsa Nusantara menyebutkan “tidak ada asap jika tidak ada api” atau “mustahil ada ranting jika tidak ada dahan” maka segalanya pasti ada yang memulai dan mengajarkan.
5000 tahun sebelum penanggalan Masehi di Asia dalam sejarah peradaban bangsa Mesir kuno  menerangkan (menggambarkan) tentang keberadaan ajaran Matahari dari bangsa Galuh, mereka menyebutnya sebagai “RA” yang artinya adalah Sinar/ Astra/ Matahari/ Sunda.
“RA” digambarkan dalam bentuk “mata” dan diposisikan sebagai “Penguasa Tertinggi” dari seluruh ‘dewa-dewa’ bangsa Mesir kuno yang lainnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangsa Mesir kuno-pun menganut dan mengakui Sundayana (Agama Matahari) yang dibawa dan diajarkan oleh leluhur bangsa Galuh.
Disisi lain bangsa Indonesia saat ini mengenal bentuk dan istilah “mata” (eye) yang mirip dengan gambaran “AMON-RA” bangsa Mesir kuno, sebutan “amon” mengingatkan kita kepada istilah “panon” yang berarti “mata” yang terdapat pada kata “Sang Hyang Manon” yaitu penamaan lain bagi Matahari di masyarakat Jawa Barat jaman dahulu (*apakah kata Amon dan Manon memiliki makna yang sama?)




Selain di Asia (Mesir) bangsa Indian di Amerika-pun sangat memuja Matahari (sebagai simbol leluhur, dan mereka menyebut dirinya sebagai bangsa “kulit merah”) bahkan masyarakat Inca, Aztec dan Maya di daerah Amerika latin membangun kuil pemujaan yang khusus ditujukan bagi Matahari, hingga mereka menggunakan pola penghitungan waktu yang berlandas pada peredaran Matahari, mirip dengan di Nusantara (pola penanggalan Saka = Pilar Utama = Inti / Pusat Peredaran = Matahari).





Masyarakat suku Inca di Peru (Amerika Latin) membangun tempat pemujaan kepada Matahari di puncak bukit yang disebut Machu Picchu. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa secara umum konsep “meninggikan dengan pondasi yang kokoh” dalam kaitannya dengan “keagungan“ (tinggi, luhur, puncak, maha) merupakan landas berpikir yang utama agama Sunda.
Secara filosofis, pola bentuk ‘bangunan’ menuju puncak meruncing (gunungan) itu merupakan perlambangan para Hyang yang ditinggikan atau diluhurkan, hal inipun merupakan silib-siloka tentang perjalanan manusia dari “ada” menuju “tiada” (langit), dari jelma menjadi manusia utama hingga kelak menuju puncak kualitas manusia adiluhung (maha agung).
Demikian pula yang dilakukan oleh suku Maya di Mexico pada jaman dahulu, mereka secara khusus membangun tempat pemujaan (kuil/pura) kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal).




Pada jaman dahulu hampir seluruh bangsa di benua Amerika (penduduk asli) memuja kepada Matahari, dan hebatnya hampir semua bangsa menunjukan hasil kebudayaan yang tinggi. Kemajuan peradaban dalam bidang arsitektur, cara berpakaian, sistem komunikasi (baik bentuk lisan, tulisan, gaya bahasa, serta gambar), adab upacara, dll. Kemajuan dalam bidang pertanian dan peternakan tentu saja yang menjadi yang paling utama, sebab hal tersebut menunjukan kemakmuran masyarakat, artinya mereka dapat hidup sejahtera tentram dan damai dalam kebersamaan hingga kelak mampu melahirkan keindahan dan keagungan dalam berkehidupan (berbudaya).
Sekitar abad ke XV kebudayaan agung bangsa Amerika latin mengalami keruntuhan setelah datangnya para missionaris Barat yang membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Tujuan utamanya tentu saja Gold (emas/ kekayaan) dan Glory (kejayaan/ kemenangan) sedangkan Gospel (agama) hanya dijadikan sebagai kedok politik agar seolah-olah mereka bertujuan untuk “memberadabkan” sebuah bangsa.
Propaganda yang mereka beritakan tentang perilaku biadab agama Matahari dan kelak dipercaya oleh masyarakat dunia adalah bahwa; “suku terasing penyembah matahari itu pemakan manusia”, hal ini mirip dengan yang terjadi di Sumatra Utara serta wilayah lainnya di Indonesia. Dibalik propaganda tersebut maksud sesungguhnya kedatangan para ‘penyebar agama’ itu adalah perampokan kekayaan alam dan perluasan wilayah jajahan (imperialisme), sebab mustahil bangsa yang sudah “beragama” harus ‘diagamakan’ kembali dengan ajaran yang tidak berlandas kepada nilai-nilai kebijakan dan kearifan lokalnya.
Dalam pandangan penganut agama Sunda (bangsa Galuh) yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa (negara)” tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, emas serta batu permata dan lain sebagainya melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam (keabadian). Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas geografisnya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara dan negara tropis lainnya. Leluhur Galuh mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut :
“Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna”
(Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya)
“Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak”
(Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)



Kuil (tempat peribadatan) pemujaan Matahari hampir seluruhnya dibangun berdasarkan pola bentuk “gunungan” dengan landasan segi empat yang memuncak menuju satu titik. Boleh jadi hal tersebut berkaitan erat dengan salah satu pokok ajaran Sunda dalam mencapai puncak kualitas bangsa (negara) seperti Matahari yang bersinar terang, atau sering disebut sebagai “Opat Ka Lima Pancer” yaitu; empat unsur inti alam (Api, Udara, Air, Tanah) yang memancar menjadi “gunung” sebagai sumber kehidupan mahluk.
Menilik bentuk-bentuk simbolik serta orientasi pemujaannya maka dapat dipastikan bahwa piramida di wilayah Mesir-pun sesungguhnya merupakan kuil Matahari (Sundapura). Walaupun sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa piramid itu adalah kuburan para raja namun perlu dipahami bahwa raja-raja Mesir kuno dipercaya sebagai; Keturunan Matahari/ Utusan Matahari/ Titisan Matahari/ ataupun Putra Matahari, dengan demikian mereka setara dengan “Putra Sunda”(Utusan Sang Hyang Tunggal).
Untuk sementara istilah “Putra Sunda” bagi para raja Mesir kuno dan yang lainnya tentu masih terdengar janggal dan aneh sebab selama ini sebutan “Sunda” selalu dianggap sebagai suku, ras maupun wilayah kecil yang ada di pulo Jawa bagian barat saja, istilah “Sunda” seolah tidak pernah terpahami oleh bangsa Indonesia pun oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.
Tidak diketahui waktunya secara tepat, Sang Narayana Galuh Hyang Agung (Galunggung) mengembangkan dan mengokohkan ajaran Sunda di Jepang, dengan demikian RA atau Matahari begitu kental dengan kehidupan masyarakat Jepang, mereka membangun tempat pemujaan bagi Matahari yang disebut sebagai Kuil Nara (Na-Ra / Api-Matahari) dan masyarakat Jepang dikenal sebagai pemuja Dewi Amate-Ra-Su Omikami yang digambarkan sebagai wanita bersinar (Astra / Aster / Astro / Astral / Austra).




Tidak hanya itu, penguasa tertinggi “Kaisar Jepang” pun dipercaya sebagai titisan Matahari atau Putra Matahari (Tenno) dengan kata lain para kaisar Jepang-pun bisa disebut sebagai “Putra Sunda” (Anak/ Utusan/ Titisan Matahari) dan hingga saat ini mereka mempergunakan Matahari sebagai lambang kebangsaan dan kenegaraan yang dihormati oleh masyarakat dunia.

Dikemudian hari Jepang dikenal sebagai negeri “Matahari Terbit” hal ini disebabkan karena Jepang mengikuti jejak ajaran leluhur bangsa Nusantara, hingga pada tahun 1945 ketika pasukan Jepang masuk ke Indonesia dengan misi “Cahaya Asia” mereka menyebut Indonesia sebagai “Saudara Tua” untuk kedok politiknya.
Secara mendasar ajaran para leluhur bangsa Galuh dapat diterima di seluruh bangsa (negara) karena mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal (logis dan realistis), tanpa tekanan dan paksaan yaitu :
  1. Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas keberadaban sebuah bangsa (masyarakat) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih (cinta-kasih).
  2. Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan beradab melalui segala sumber daya bumi (alam/ lingkungan) di wilayah masing-masing yang dikelola secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
  3. Pemeliharaan kualitas alam secara selaras yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi (berkelanjutan).
Demikian ajaran Sunda (Sundayana/ Surayana/ Agama Matahari) menyebar ke seluruh penjuru Bumi dibawa oleh para Guru Hyang memberikan warna dalam peradaban masyarakat dunia yang diserap dan diungkapkan (diterjemahkan) melalui berbagai bentuk tanda berdasarkan pola kecerdasan masing-masing bangsanya.
Ajaran Sunda menyesuaikan diri dengan letak geografis dan watak masyarakatnya secara selaras (harmonis) maka itu sebabnya bentuk bangunan suci (tempat pemujaan) tidak menunjukan kesamaan disetiap negara, tergantung kepada potensi alamnya. Namun demikian pola dasar bangunan dan filosofinya memiliki kandungan makna yang sama, merujuk kepada bentuk gunungan.
Di Indonesia sendiri simbol “RA” (Matahari/ Sunda) sebagai ‘penguasa’ tertinggi pada jaman dahulu secara nyata teraplikasikan pada berbagai sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu diungkapkan dalam bentuk (rupa) serta penamaan yang berkaitan dengan istilah “RA” (Matahari) sebagai sesuatu yang sifat agung maupun baik, seperti;
  1. Konsep wilayah disebut “Naga-Ra/ Nega-Ra”
  2. Lambang negara disebut “Bende-Ra”
  3. Maharaja Nusantara bergelar “Ra-Hyang”
  4. Keluarga Kerajaan bergelar “Ra-Keyan dan Ra-Ha-Dian (Raden)”.
  5. Konsep ketata-negaraan disebut “Ra-si, Ra-tu, Ra-ma”
  6. Penduduknya disebut “Ra-Hayat” (rakyat).
  7. Nama wilayah disebut “Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, Indonesia (?)”
dll.
Kemaharajaan (Keratuan/ Keraton) Nusantara yang terakhir, “Majapahit” kependekan dari Maharaja-Pura-Hita (Tempat Suci Maharaja yang Makmur-Sejahtera) dikenal sebagai pusat pemerintahan “Naga-Ra” yang terletak di Kadiri – Jawa Timur sekitar abad XIII masih mempergunakan bentuk lambang Matahari, sedangkan dalam panji-panji kenegaraan lainnya mereka mempergunakan warna “merah dan putih” (Purwa-Daksina) yang serupa dengan pataka (‘bendera’) Indonesia saat ini.
Bende-Ra MAJAPAHIT
Bende – Ra Majapahit
Tidak terlepas dari keberadaan ajaran Sunda (Matahari) dimasa lalu yang kini masih melekat diberbagai bangsa sebagai lambang kenegaraan ataupun hal-hal lainnya yang telah berobah menjadi legenda dan mithos, tampaknya bukti terkuat tentang cikal-bakal (awal) keberadaan ajaran Matahari atau agama “Sunda” itu masih tersisa dengan langgeng di Bumi Nusantara  yang kini telah beralih nama menjadi Indonesia.
Di Jawa Kulon (Barat) sebagai wilayah suci tertua (Mandala Hyang) tempat bersemayamnya Leluhur Bangsa Matahari (Pa-Ra-Hyang) hingga saat ini masih menyisakan penandanya sebagai pusat ajaran Sunda (Matahari), yaitu dengan ditetapkannya kata “Tji” (Ci) yang artinya CAHAYA di berbagai wilayah seperti; Ci Beureum (Cahaya Merah), Ci Hideung (Cahaya Hitam), Ci Bodas (Cahaya Putih), Ci Mandiri (Cahaya Mandiri), dan lain sebagainya. Namun sayang banyak ilmuwan Nusantara khususnya dari Jawa Barat malah menyatakan bahwa “Ci” adalah “cai” yang diartikan sebagai “air”, padahal jelas-jelas untuk benda cair itu masyarakat Jawa Barat jaman dulu secara khusus menyebutnya sebagai “Banyu” dan sebagian lagi menyebutnya sebagai “Tirta” (*belum diketahui perbedaan diantara keduanya).
Sebutan “Ci” yang kelak diartikan sebagai “air” (cai/nyai) sesungguhnya berarti “cahaya/ kemilau” yang terpantul di permukaan banyu (tirta) akibat pancaran “sinar” (kemilau). Masalah “penamaan/ sebutan” seperti ini oleh banyak orang sering dianggap sepele, namun secara prinsip berdampak besar terhadap “penghapusan” jejak perjalanan sejarah para leluhur bangsa Galuh Agung pendiri agama Sunda (Matahari).
 
`Cag


Sumber :
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda
3. https://harumankawali.wordpress.com/2012/12/09/naon-ari-sunda
Terbaru
Back to top